Minggu, 25 Mei 2014

Sayap Sayap Rabia

12.01




Semburat cahaya oranye kemerah-merahan di langit mulai berganti. Berubah  jingga kehitam-hitaman. Semakin lama semakin gulita dan akhirnya gelappun tiba, bersama  sungsupnya mentari senja. Azan Magrib sudah lama terdengar. Tapi sunyi senyap di luar seakan ikut memaksa para penghuninya untuk hanya diam di dalam rumah.  Listrik tiba-tiba padam. Burung-burung Gagak sahut-menyahut. Seperti menyambut gembira kegelapan malam. Malam ini pun seperti malam malam sebelumnya.

Layla memanggil kakaknya agar menyalakan lilin. Foto yang sejak tadi dipegangnya ia masukan kembali ke dalam buku album foto dan diletakkannya di atas meja. Kakaknya yang kemudian datang dengan membawa lilin menyala, menatap Layla yang sedang  menyandar di kursi balkon rumah.

”Masih menatap foto itu lagi?” kakaknya bertanya. Layla tidak menjawab. Ia memilih berdiam diri karena pertanyaan seperti itu telah puluhan kali didengarnya.

”Kalau foto-foto itu mengganggu, simpan saja album foto itu di lemari. Jangan membuat Ayah bersedih di sana, karena melihatmu terus menerus bersedih di sini”.

Layla hanya menatap kosong kakaknya. Kakaknya yang segera menangkap makna tatapan itu meninggalkan Layla dan kembali ke ruang tengah melanjutkan bacaan Matsurotnya[1].

*****
Empat bulan yang lalu.

“Doakan agar Ayah syahid ya, Nak.” pinta sang Ayah dari sambungan telpon.

“Aku juga ingin syahid, Ayah..” jawab Nagla, seakan sedang memperebutkan syahid.

Sang Ayah tersenyum mendengar jawaban anaknya. Rasa rindu yang mengubun-ubun seakan menguap bersama jawaban indah putrinya. Hampir sebulan sudah ia dan teman-teman seperjuangannya bertahan di Rab’ah Al Adawiyah. Meninggalkan putri-putrinya yang sebelumnya merengek agar mereka diizinkan pergi bersamanya.

“...Ayah, Semoga Ayah dan semua yang di sana selalu dalam naungan Allah..” Suara Nagla dari ujung telpon mengaburkan lamunan sang Ayah.  Iya sadar betul Nagla sangat merindukannya. Terlebih lagi Nagla harus mengurus Layla sendirian disana. Semenjak ibu mereka  meninggal 8 tahun yang lalu, Nagla menjadi kakak sekaligus ibu bagi Layla. Mereka berdua tumbuh dewasa dengan luar biasa. Selalu mengerti keadaan. Termasuk saat sang Ayah memutuskan pergi dari Alexsandria dan bergabung bersama demonstran di Rab’ah Al Adawiyah.

“...Ayah, kemarin Layla ikut berdemo di jalanan Alexsandria. Aku sudah melarangnya, tapi Nayla malah memarahiku saat ku katakan akan memberitahu Ayah. Oh iya rencananya kami mau sholat Idul Fitri nanti di Rab’ah bersamamu, Yah. Boleh ya?” 

“Yang penting terus jaga adikmu. Iya boleh. Ayah akan menunggu kalian di sini,” jawab sang ayah sambil membayangkan wajah dua permata hatinya di seberang telpon sana.

“Ayah pamit dulu ya, Nak. Semoga esok kita bertemu dan berkumpul kembali. Setidaknya saat di surgaNya nanti.”  Lanjut sang Ayah.

“Ashaduallah ilahaillallah wa ashaduanna muhammadurrosullah...”

Rentetan suara tembakan terdengar dimana-mana. Deru baling-baling Helikopter dan teriakan orang-orang yang berlarian menghindari serangan yang membabibuta. Satu demi satu tubuh-tubuh mulai berjatuhan. Darah-darah bercucuran menjadi saksi para syuhada yang menjemput janji kehidupan. Mereka adalah Jiwa-jiwa lelah dunia, perindu lelap surga. Dan pagi itu Rab’ah berduka.

*****
Tempat ini banyak berubah. Air mancur di tengah perempatan jalan terlihat rusak parah. Dinding-dinding sekitar banyak corat-coret sumpah serapah, mesjid yang dulu tampak kokoh, kini  tersisa puing-puing bekas terbakar. Tidak tampak lagi burung-burung merpati di sekitar. Hanya puluhan orang berseragam dan bersenjata terlihat berjaga-jaga di sekitarnya. Sama sekali berbeda dengan yang pernah kurekam di dalam ingatan.

Aku duduk di halte seberang jalan. Menatap mesjid yang terlihat mulai direnovasi. Mungkin tadi siang hujan. Bangku yang kududuki agak lembab. Saat bersandar, aku merasakan titik-titik air di sekitar punggung, yang meresap melalui Abaya[2] abu-abu yang kukenakan. Kepalaku terasa pusing. Sejak di Tramco[3] kepalaku memang sudah terasa berat. Empat bulan sudah sejak tempat ini menjadi saksi bisu pembantaian yang merenggut banyak nyawa. Termasuk Ayahku.

Beberapa pejalan kaki yang melintas di hadapanku melemparkan senyum. Seorang lelaki berseragam berjalan ke arahku. Ia lalu duduk di sampingku.

“Hey nak, apakah orang tuamu syahid di tempat ini?” Seorang yang sedari tadi memperhatikanku dari seberang jalan, bertanya di sebelahku. Lamunanku buyar dan bergegas berdiri ketika meilihat AK47 di tangannya. Dengan terburu-buru kusimpan foto ayahku kedalam kantong.

“Tak perlu takut. Aku tidak akan menyakitimu. Anakku seumuran denganmu pun syahid di tempat ini 27 Juli yang lalu,”

“Lekaslah pulang ke rumah. Hari ini hadzru tajawwul[4] dari pukul 19.00.” Lanjutnya.  Dari raut muka dinginya. Ada cahaya kerinduan di mata tentara tersebut. Entah rindu akan anaknya ataupun rindu suasana Mesir dulu. Sejenak aku menebak-nebak apakah anaknya syahid sebagai pendukung atau penokak kudeta. Tapi entahlah dunia saat ini sungguh memusingkan kepala.

Masyi ya Rayees[5]” jawabku pelan.

Lelaki bersenjata itu beranjak meninggalkanku. Kulihat seorang teman tentaranya melambaikan tangan ke arahnya. Aku bergumul lagi dengan lamunan sambil membayangkan merekalah yang telah membantai Ayah dan teman-temannya. Rahangku mengeras kesal tapi perlahan melunak kembali saat azan Magrib terdengar dari segala penjuru Rab’ah Al Adawiyah.

Azan Magrib terdengar di seantero wilayah Mesir. Sahut menyahut memanggil para jama’ah untuk melaksanakan kewajibannya. Aku melangkah menuju pinggir jalan. Memberentikan sebuah bis kecil tujuan Ramsis. Sesampai di Ramsis, langsung bergegas menuju Stasiun. Karena besok tahun baru Islam 1435 Hijriah.  Malam ini aku harus sudah di Alexsandria. Atau kak Nagla akan memarahiku lagi. Semenjak Ayah pergi. Baru sekarang kak Nagla mengizinkanku meninggalkan Alexsandria. Itupun pakai batas waktu segala. Gunggamku pelan.

******

Malam beranjak larut. Pemadaman listrik belum juga usai. Sudah lima lilin berjejer habis di depan Layla. Layla masih mematung melihat satu persatu foto sambil mengingat-ngingat masa lalu.

“Kau tidak perlu sedih berlarut-larut..” Kak Nagla membuyarkan lamunan Layla.

“Di luar sana banyak yang lebih kesepian, lebih menderita. Kau kan disini punya kakak. Kakak yang selalu mengukir senyum malammu yang indah itu..” Kak Nagla bangkit menuju Layla yang masih mematung menatap foto di tangannya. Layla yang sedari tadi hanya diam mendadak kaget saat sadar kakaknya sudah memeluknya dari belakang.

“Kau tau makna kesepian Layla?” lanjut kak Nagla menguatkan pelukkannya.

Layla tertegun lama mendengar pertanyaan kak Nagla. Ia sadar betul, kak Nagla lah yang sebenarnya paling merasa sedih, paling merasa kehilangan dan kesepian. Semenjak kepergian Ayah, kak Nagla yang mengantikan posisi Ayah memimpin keluarga. Kak Nagla terpaksa berenti kuliah dan bekerja di sebuah Hadhonah[6] untuk menyambung kehidupan. Lamunan Layla terhenti saat lampu rumah mulai berkedap-kedip pertanda akan menyala.

“Maafkan Layla kak..” Ungkap Layla dengan terbata-bata. Kak Nagla tersenyum melihat adiknya. Dilepaskan pelukannya kemudian duduk di sebelah Layla.

“Muharram adalah bulan ceria. Jangan sibuk bersedih. Yaa walau di tahun yang baru ini banyak anak yang kehilangan ayahnya, banyak istri yang kehilangan suaminya dan negara ini yang kehilangan pemimpinnya. Biarkan sayap-sayap harapan mereka bertemu zat penciptanya. Tinggal kita yang harus menciptakan sayap-sayap perjuangan selanjutnya..” Kak Nagla menatap Layla dengan semangat yang menggebu-gebu. Layla tersenyum tipis melihat kobaran semangat kakaknya. Kemudia dipeluknya kak Nagla dengan penuh haru.

Angin malam berhembus syahdu. Membuat pepohonan bergoyangan seolah sedang bertasbih memuji Rabbnya. Malam itu malaikat-malaikat turun menjadi saksi ketakwaan dua orang hamba yang tengah menikmati proses kehidupan dengan penuh keikhlasan. Sayap-sayap perjuangan mereka mengepak membuat iri penghuni-penghuni langit.


" Adapun orang-orang yang berjihad (mempersungguh) di dalam urusanKu maka akan Aku ( Allah ) tunjukkan jalanKu pada mereka, sesungguhnya Allah niscaya beserta orang-orang yang berbuat baik".
QS al-Ankabut: 69



Selamat Hari Pahlawan          
Tagamuk Awal, 10 November 2013



[1]. kitab kecil berupa kumpulan doa yang disusun oleh Al Imam Hasan Al Banna Rahimahullah yang berisi doa-doa yang berasal dari Al Quran dan As Sunnah.
[2]. Pakaian khas perempuan arab
[3].Angkutan umum mini di Mesir
[4] Jam malam
[5] Okesiip pak
[6] Taman kanak-kanak

0 comments :

Posting Komentar

Author image

About the Author :

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Integer nec odio. Praesent libero. Sed cursus ante dapibus diam. Sed nisi. Nulla quis sem at nibh elementum imperdiet. Duis sagittis ipsum. Praesent mauris. Fusce nec tellus sed augue semper porta. Mauris massa. Vestibulum lacinia arcu eget nulla.

Connect with him on :